
Jakarta, kamis pagi yang hening.
Saat hari masih begitu bersih tanpa warna dosa.
Sayupsayup telinganya mengirimkan bunyi itu, mengintimidasi mimpinya Apa yang berdenging? Alarm..yang dipasang untuk membangunkannya sekarang? Atau bunyi lain… deringnya tak juga menyurut.
Alam bawah sadarnya mencari asal suara, tangannya menggapai, instingtif dan mendekatkan ke wajahnya. Tak sengaja menekan satu tombol, Loudspeaker Hp..
Dan suara itu berkumandang merobek keheningan “Good morning sweetheart…” Ia membelalak kaget, meskipun kantuk masih menjajah matanya. “Hi..pagi juga” desahnya parau. tuut..tuuut… Tibatiba layar Hp nya gelap,hitam.. Lowbat, Shit..!! Sempat berharap penelpon itu seorang pria yang selalu ia nantikan untuk menyapanya di pagi hari, memberinya semangat untuk memulai hari,tapi sepertinya tidak mungkin. Ia mengenal suara itu, tak asing di telinganya, pria yang dulu sempat mengisi harinya dengan warnawarni, Seseorang dari masa lalu..
Beberapa saat setelah itu berdering lagi.. 1 new message..
“Kuharap Tuhan akan memegangmu eraterat dan para malaikat akan menjagamu ketat. Tak hanya membuat kamu baik,tapi agar kamu mendapatkan yang terbaik dalam hidup.” lalu diakhiri dengan nama pengirimnya.
Belum pernah kebenaran terasa menjengkelkan seperti ini. Bahwa ternyata ia rindu sosoknya, suaranya, setiap perhatian yang dulu diberikan oleh pria itu. Ingin mengingkari, tapi ia sangsi. Sudah lama tak bersua, sudah lama tak berkabar, hanya tahu dia sekarang berada di negeri orang, kirakira ada apa gerangan? Akhirnya memutuskan tidak membalas SMS itu,tidak menulis satu huruf pun. Daripada hanya membuka luka dimasa lalu. Harus melupakan pria itu, tak akan menyesali semua yang telah terjadi, tidak ada benci, tapi tidak pernah diingkari getar yang tersisa kini tak pernah mati. Sesaat ia terkurung dalam kesunyian yang bisu, yang selalu meresahkannya. Ia teringat seseorang…
Pintu terbuka dan tertutup
Mereka datang
Mereka pergi
Meninggalkan sepi yang menyayat
Harus kubuka kembali
Hatiku yang terkunci