
Wuuuah…akhirAkhir ini aku lagi rajinRajinnya ikut fitnes di salah satu tempat kebugaran di Jakarta, itu tuh deket banget sama tempat tinggalku.. 
Mungkin sudah sekitar dua minggu ini, menjelang sore apalagi pas hari sabtu, pasti gag pernah absen dateng kesana, hanya sekedar untuk cuci mata dan pastinya biar sehat juga nurunin berat badan ini dunkss.. 
Hemmm….kenapa? karena disitu ituh ada salah satu instruktur yoga yang ya ampuuun cakep abisss hu hu.. 
Sosoknya gagah tinggi putih bersih aduuuh… giginya putih, hidungnya mancung, alisnya hitam tebal, bibirnya merah merekah wualaaaaah…

Hemmm banyak wanita pria mungkin juga waria yang berdatangan, sampai terkadang harus pake ngantri dulu biar bisa ikutan kelas yoga itu.. 
Truss…sampai di suatu sore saat Jakarta sedang diguyur hujan derass, sehabis ikut kelas yoga aku duduk di loby fitnes sambil pesen orange juice dan seorang trainer dengan akrab menyapa dan menghampiri duduk di sofa tepat di depanku, kami ngobrol agak lama, tibaTiba saja pebicaraan beralih ke instruktur yoga itu.
Dia : Ooo….yang itu sih udah jadi rahasia umum tuh
Aku : Haah….masa’ sih..?? 
Dia : Itu pacarnya yang lagi duduk berdua disitu, yang pake kemeja coklat
Aku : Haaaah…?? yakin tuh.. 
Dia : Ha ha… cakep juga kan pacarnya
Aku : *Gleg….*

Yaaa begitulah ceritanya Ha ha.. ternyata dia…homoseksual
Hemmm maaph postingan kali ini teramat sangat panjang, Kalau si antocrewet punya 634 kata, postingan kali ini punya 751 kata. Jadi kalau tidak berminat membaca yaa sampai sini saja tak apaApa..

Lamunanku terseret jauh menghimpun setiap moment yang terjadi saat itu.
Ia menelponku siang itu, dan akhirnya kami bertemu disalah satu cafe di daerah tebet. Sebut saja namanya Resha, ia memukau..Sebentuk paras yang rupawan. Hidung, bibir dan dagunya begitu menawan, postur tubuh ideal, fisiknya tampak kokoh dan tak rapuh. Penampilannya menarik, rapi, fashionable tapi tidak genit. Keindahan yang bernyawa berbaur dengan kemaskulinan.
Dibalik semua itu, aku melihat galau berpendar di matanya. Kesepian yang menyeruak teramat dalam, dan duka yang telah sekian lama terpendam.
Aku memang tak asing dengan sosok perempuan itu, sudah cukup lama kami saling mengenal. Kami saling berbagi, bercerita dan berbicara tentang apa saja.
Namun, siang itu ibatiba saja pembicaraan kali ini dimulai dengan kataKata yang berujung tak terduga.
Dia : “Aku mencintai perempuan itu dan aku tak akan pernah lupa”.
Kisah cinta yang sebenarnya terjadi, tapi selalu di ingkari.
Kehidupan merupakan dermaga. Tak pernah bisa memilih kapal mana yang seharusnya berlabuh. Selalu saja datang kapal kejutan yang tak diundang dan bermuatan berpetiPeti kata ternyata. Dan kita hanya bisa rela menerimanya, karena kapal itu sudah terlanjur merapat dan melepaskan jangkarnya.
Sama seperti Resha tidak bisa memilih dilahirkan ke dunia sebagai anak tunggal. Ibunya menghembuskan nafas terakhir, saat Resha menarik nafas dan terlahir ke dunia. Setelah itu ayahnya tak pernah menikah lagi, mengunci hatinya rapat demi merawat dan membesarkan anaknya. Bekerja dari pagi larut malam baru akan pulang, semua itu dilakukan untuk mencukupi semua kebutuhan anaknya.
Sehingga, ia lupa anaknya seorang perempuan yang dunianya bertolak belakang dengan lakiLaki. Anak perempuan butuh dibelai, dipeluk, disusui, dimanja, dibimbing. Dan selebihnya Resha menjadi anak alam yang berlarian tumbuh mencari kebebasan dan jati diri. Tubuhnya berubah, Resha terkejut seperti tak mengenali tubuhnya sendiri. Ia merasa terkurung dalam tubuh seorang perempuan dewasa. Dan memang tak cukup hanya seorang ayah yang mendampingi anaknya dalam menghadapi usia puber.
Bagaimana Resha kerap bercerita tentang mengapa dulu pada suatu hari ia tersentak mendapati celananya terdapat bercak darah? dan mengapa saat itu akan timbul rasa nyeri di perutnya? Mengapa tonjolan di antara ke dua dadanya mulai membesar??
Ia merejam dalam kebisuan, kepada setiap wanita yang lewat dihadapannya. Namun, hanya foto usang ibunya yang hanya bisa diratapi. Ia tak pernah merasakan wujud kehadiran seorang ibu yang bisa disentuh dan dipeluk yang menjaganya. Ia merindukan kehangatan seorang wanita dalam hidupnya. Ia menantikan, menyembunyikannya rapat, berjuang membunuhnya tapi ternyata getar itu tak pernah padam.
Dan hari itu kami duduk berhadapan sambil menikmati makanan. Ia duduk di sebuah kursi berwarna hitam tepat di depanku saat jam makan siang.
Dia : “Aku tak akan pernah lupa sosok wanita itu, tapi sekarang aku bahagia dan merasa lega karena sudah ada kamu disini, bagiku cukup merasa tenang dengan melihatmu”
Haaah…..aku ??!! ingin berteriak penuh sukses, terperangah kagum juga menyedihkan. Namun, aku ini hanya selayaknya wanita biasa yang masih mendambakan dekapan hangat seorang pria.
Cinta…bukankah setiap orang berhak jatuh cinta??
Haruskah menghakimi cinta seperti ini?
Cinta terlarang yang disingkirkan masyarakat seperti virus yang tak pernah bisa dibasmi.

Lhaa, ini lagi posting.
Kemarin sempet nonotn di Blitz Megaplex, emmm…tapi sampai sekarang di theater 21 juga masih tayang. Ayooo buruan nonton…! 